Pinball Kegemaranku
Seorang anak bernama Joko
senang sekali bermain pinball.
Bahkan, ia mengatakan bahwa pinball adalah makanan sehari-harinya. Walaupun
begitu ia tetap rajin belajar. Sayangnya, orangtuanya tidak pernah mendukung
hobinya. Walaupun, anaknya rajin belajar tetapi mereka tidak suka dengan kegemaran
anaknya yaitu bermain pinball.
Suatu hari, Joko pergi ke
sekolah. Dan disana ia melihat di mading
ada sesuatu hal yang menarik. Ternyata, hal yang menarik itu adalah kejuaraan
pinball se kabupaten. Joko pun tertarik dan langsung mendaftarkan dirinya
dengan diam-diam karena ia tahu orangtuanya pasti marah kalau melihat Joko ikut
kejuaraan tersebut.
Ketika istirahat sahabatnya
yang bernama Deni pun datang. Deni pun melihat
ada suatu formulir yang dipegang oleh Joko dan Deni pun tertarik dengan
apa yang dipegang Joko. Deni pun bertanya kepada Joko.
“ Joko, kayaknya ada
yang menarik tuh” kata Deni.
“ Memangnya apa Den?”
tanya Joko
“ Itu formulir yang
kamu pegang.” sahut Deni.
“ Oh. Ini formulir kejuaraan
pinball se Kabupaten” jawab Joko
“ Hah pinball !?
lebih baik kamu jangan mendaftar nanti orangtuamu marah” sahut Deni
“ Aku akan tetap ikut
walaupun orangtuaku melarang” jawab Joko dengan tegas
“ Ah kamu ini keras
kepala. Resiko kamu tanggung sendiri ya”
Setelah istirahat
Joko pun masuk ke kelas. Ia pun terus memikirkan strategi apa yang dipakai
untuk kejuaraan. Karena ia terus melamun karena strategi Pinball, gurunya pun
menegur Joko untuk tidak melamun. Karena teguran guru tersebut ia pun fokus belajar
dan berhenti memikirkan strategi pinball.
Ketika bel sekolah
berbunyi Joko pun pulang dan langsung memainkan komputernya. Ketika orangtuanya
melihat Joko bermain pinball,
orangtuanya pun langsung marah dan menyita komputer Joko. Joko pun sedih dan
langsung membentak orangtuanya. Karena orangtuanya kesal, mereka pun langsung
memukul Joko terutama bapak. Ia pun tambah sedih karena berpikir apakah dia
anak kandung atau bukan.
Setelah beberapa saat
kemudian, Joko pun langsung meminta maaf pada orangtuanya ia menyesal karena
perbuatannya. Orangtuanya pun memaafkan Joko. Tidak beberapa lama kemudian
orangtuanya kembali marah karena melihat ada formulir kejuaraan pinball se
Kabupaten. Bapaknya pun langsung berkata kepada Joko.
“ maksud kamu apa !
ikut perlombaan pinball?” tanya sang bapak
“ pak, kalau aku ikut
ini pasti dapat duit dan bisa membantu bapak dan ibu!” sahut Joko
“ tapi kan dengan
perlombaan lain kamu bisa nak” bantah sang Ibu
“ tapi kan aku sudah
memiliki passion di pinball” sahut
Joko
“ passion, passion. Lebih baik kamu belajar dan ikut lomba fisika cepat”
bantah sang Ayah
Joko pun semakin
sedih. Bagaimana tidak ibu dan bapaknya tidak mendukungnya dalam passionnya yaitu pinball. Ia pun
menangis dengan tersedu-sedu. Orangtuanya pun tak tega melihat anaknya
menangis. Tapi kemauan sang bapak dan ibu tidak bisa dihindari.
Keesokan harinya ia pun
pergi ke sekolah dengan perasaan kecewa. Deni pun melihat bahwa sahabatnya Joko
sedang kecewa. Deni pun tak tega melihatnya dan berkata kepada Joko.
“ hai Joko. Kamu
kenapa?” tanya Deni.
“ iya hal buruk
terjadi.” Jawab Joko.
“ memangnya apa?” Tanya Deni
“ orangtuaku melarang
aku bermain Pinball.” Jawab Joko
“
Joko, Joko aku kan sudah memperingati kamu untuk tidak bermain tapi kamu malah
membantahnya.” Jawab Deni
“ kamu hanya bisa
ngomong doang. Cari solusi lah.” Jawab Joko
“
sebenarnya aku punya cerita sama seperti kamu. Dulu aku ingin ikut perlombaan
melukis tapi orangtuaku melarang. Aku merasa itu adalah passion ku jadi aku
berusaha mati-matian untuk ikut sampai hati otangtuaku luruh akan hal itu.”
Jawab Deni
“
Akhirnya kamu bagaimana” jawab Joko
“ ya akhirnya aku
bisa ikut dan jadi juara 3.” Jawab Deni
“ jadi aku harus
berusaha mati-matian.” Jawab Joko
“ ya betul sekali”
jawab Deni.
“ hah bel sudah
berbunyi ayo kita masuk” sahut Joko
Joko pun sadar bahwa
ia harus berusaha. Ia pun mendaftarkan diri ke perlombaan tersebut. Ia pun
terus membujuk orangtuanya untuk membolehkan Joko ke perlombaan tersebut.
Akhirnya orangtuanya pun setuju. Asal ada satu syarat yaitu harus jadi juara
dan membanggakan nama orangtua serta nama ia sendiri.
Setelah satu minggu
kemudian, Joko pun ikut perlombaan tersebut . Joko pun melihat ada beberapa
pemain Pinball profesional. Dan master Pinball Indonesia pun datang ke
perlombaan tersebut. Joko pun senang melihat ada berbagai macam pemain
profesional disana. Setelah beberapa jam kemudian para kontestan pun datang ke
masing-masing komputer. Orangtuanya pun merasa deg-degan melihat anaknya
bermain. Setelah beberapa saat kemudian nama Joko pun dipanggil dan masuk ke
semifinal.
Orangtuanya pun
senang melihat anaknya masuk semifinal. Disana ia melihat ada berbagai macam
pemain profesional disana. Ia pun terus berusaha untuk melawan sang pemain
profesional dan terus berusaha sampai akhirnya ia masuk ke final. Orangtuanya
pun semakin senang melihat anaknya juara.
Setelah beberapa saat
kemudian, Joko pun berhasil mengalahkan para kontestan dan ia masuk grand
final. Dengan persaingan ketat ia terus berusaha melawan sang master. Ia terus
teringat akan perkataan orangtuanya untuk terus menjadi juara. Ia pun
bersemangat untuk bermain sampai ia berhasil meraih skor 10.735.356 dan sang
master 10.735.355. Memang sangat tipis hasilnya tapi Joko tetap menjadi juara.
Orangtuanya pun
senang dan bangga melihat anaknya menjadi juara. Ia pun berhasil mewujudkan
cita-cita orangtuanya dan bersyukur kepada Tuhan atas kemenangannya. Setelah
peristiwa itu orangtuanya tidak pernah melarang ia untuk bermain pinball dan
terus mendukungnya.
No comments:
Post a Comment